Anak Lanang

by - November 13, 2013

"Ah, Bapak. Kesakitan ini, semoga tak bersembunyi selama-lamanya di dadamu. Biar begitu buruk lakunya. Dia pun anakmu juga, Bapak. Anak yang kau aliri darahmu tanpa meminta. Meski seluruh dewa bisa mengutuk anakmu jadi batu, tapi itu tak mengubah silsilah jika ia darah dagingmu, Bapak. Anakmu ... anakmu dari rahim ibuku" 




ENAM TAHUN yang lalu, ia masih jadi lelaki lentur dan gampang diatur. 
Meski, ya, hampir semua anggota keluarganya tahu bahwa ia rapuh dan payah. Namun, siapa kira dalam enam tahun itu ia menjelma jadi lelaki heartless sejak ia mengenalkan seorang perempuan sebagai pacarnya. Seorang perempuan, tentu saja bisa sangat mudah menyetir lelaki payah seperti dia. Apalagi, waktu itu statusnya masih berseragam SMA. Larangan soal pacaran memang tidak hidup dalam keluarganya yang bebas. Pun, beruntung sekali pacarnya bisa diterima dengan sangat baik: seseorang yang dicintai oleh anakku, maka layak pula kami cintai sepenuh hati, kata orangtuanya. 

Lelaki itu mula-mula hanya menuntut uang saku lebih, "Kan aku punya pacar sekarang, sesekalilah aku juga ingin mengajaknya makan di warung" katanya. Lalu, berlanjut dengan minta ini itu; untuk hadiah ulangtahun, untuk jalanjalan, untuk merayakan tahun baru untuk ... untuk dan untuk banyak hal lainnya. 

Dirasa-rasa. Ia tak pernah merasa cukup, dan tak tahu bagaimana berterima kasih, apalagi berempati pada orang lain. Ibunya sendiri yang seorang pedagang, kadang mengelus dada tiap menghadapi lidah anaknya yang tidak masuk akal, “Tuh, belanja buat warung aja bisa, tapi uang buat anak ngakunya selalu tak punya” bentak bocah lelaki itu. Padahal, seorang pedagang, jika ia tak belanja, tidak bisa memutar modalnya yang sedikit, bagaimana ia bisa untung. Bagaimana ia bisa melangsungkan usahanya yang memang hampir karam? 
---


[Bapak]

Saat kelulusan SMA, aku datang ke sekolah anakku untuk mengambil surat pengumuman lulus. Pagi-pagi benar, istriku sudah memilihkan kemeja putih dan celana kain hitam untuk kupakai. Juga satu-satunya sepatu kulit yang kupunyai sudah mengilat disemirnya. "Penampilanmu hari ini, harus mengesani kalau kau bukan seorang yang bodoh dan miskin. Jangan bikin anakmu malu, Pak" kata istriku. Aku sungguh ingin tertawa jika tidak mempertimbangkan hati istriku yang mungkin bisa tersinggung. Kenapa kita mesti malu dengan ketelanjangan? Dengan satu-satunya kejujuran yang masih berharga pada diri sendiri? 

Untunglah, surat kelulusan yang kuterima siang itu menyatakan anakku lulus. Anak yang kuhidupi dengan darah dan keringat kami ternyata bisa juga membuatku haru. Ya Tuhan, aku tidak tahan lagi untuk segera pulang dan membagi kebahagiaan ini dengan istriku, dengan patner hidupku satu-satunya. 

"Kau lulus, Nak. Bapak bangga" kataku, ketika baru saja keluar dari kelas. Kuusap-usap kepalanya. Anakku yang dulu hampir mati kena muntah ber waktu bayi, ternyata sekarang sudah begini besar. 

"Ini kunci motornya! Bapak pulanglah lebih dulu" jawabnya, tanpa merespon ucapanku. Tentu saja aku tergelak, sejurus kemudian aku menguasai diri; ah, mungkin saja ia ingin tinggal lebih dulu dan merayakan eforia kelulusan bersama teman-temanya.

Aku tak keberatan karena harus pulang sendirian. Dengan hati bahagia, kuangsurkan uang 50 ribu jika mungkin ia butuhkan untuk jajan. Namun, ia justru melihat sisa uang di saku bajuku yang transparan. Ia ambil semuanya. Ia ambil tanpa sisa. Aku bilang, aku tak punya lagi uang pegangan untuk pulang. Bagaimana kalau pecah ban, bensin habis, atau kena razia polisi karena tak ada SIM? Tapi ia tak peduli sama sekali. Ia pergi dari hadapanku. Pergi, dan pergi selama dua hari itu juga ia tidak pulang. Pun tidak ada kabar yang datang. 

Istriku di rumah menangis selama dua hari itu. Kasihan betul istriku, ekspektasinya terlalu berlebihan. "Ya Pak. Kupikir, ia akan pulang bersamamu. Mengabarkan kelulusannya dengan memelukku. Kupikir begitu indah perayaan yang sederhana itu. Hanya kubayangkan saja. Tapi ternyata, begini ngilu kecemasan yang ia beri pada kita" bisiknya dengan suara yang bergetar. Saat kemudian anakku pulang, ia hanya mengadu uangnya telah habis untuk bermalam di pantai. Entah dengan siapa. Mungkin dengan pacarnya. Mungkin juga tidak hanya pergi ke pantai. Aku tidak mau bertanya lebih detail. Bahkan ia pun lupa bagaimana meminta maaf. 
---


[Ibu]

Ia pergi setelah menendang perut bapaknya karena marah. Sungguh, kelewat kurang ajar anak satu itu. Ia membikin suamiku terjerembab ke rerumput halaman rumah hanya karena uang. Lagi-lagi hanya soal uang. Perang di rumahku rasanya tak ada habisnya jika kembali soal uang dan anak lelakiku. Padahal saat dulu keinginan sekolahnya kuturuti, aku berharap ia akan menjadi pribadi yang baik dan bisa diandalkan. Tapi bahh! Meski kukuliahkan di kota Wetan, otaknya tak jauh beda dengan pendidikanku yang cuma lulus SD. Sebagai ibu, sungguh kutahan-tahan betul kekesalanku ini untuk tidak berkata kasar.

Ia pikir mencari uang itu mudah, apa? Aku yang berpendidikan paling rendah di rumah ini, serasa diseret supaya mengikuti arus pergaulannya yang hedon (kupinjam istilah ini dari tetanggaku). Malu rasanya, sebagai ibu, kupingku kerap panas jika disindir-sindir sebagai orangtua yang gagal mendidik anak. Ya, satu anak itu saja yang membikin mukaku tak berbentuk lagi. Demi dia padahal aku rela berhutang, membanting tulang di usia yang tak lagi muda. Sedih rasanya jika terkenang, pada suatu hari aku melewati hutan saat hujan telah berakhir. Anakku minta dikirim uang segera mungkin, maka aku menemui saudaraku di desa lain untuk dapat pinjaman. Apakah mungkin, untuk anak yang tak berbudi itu, bahkan alam pun menolaknya; Aku terpeleset di hutan, lalu disengat kalajengking. Dan kesedihan itu tak ada bayaran yang baik untukku. Sebab saat kuceritakan ini, di seberang telepon, anakku bilang "Kalau jalan itu, makanya lihat-lihat".

Belum begitu, anak lelakiku itu juga selalu merasa kurang; baik kurang materi ataupun hati kami. Semua orang menurutnya harus mengerti dia, namun jika keluarganya kena musibah--sama sekali ia tak mau tahu. 

Ia suka sekali mengadu tentang pacarnya padaku "Kasihan sekali pacarku, ia miskin, punya pacar aku yang juga miskin". Maka, keluhan itu berlanjut ke soal uang saku yang harus bertambah terus menerus. Mungkin baginya, jika ada pilihan antara orangtua atau pacar, ia akan lebih mengekori pacarnya daripada keluarga sendiri. Apa pernah ia merasa kasihan ke padaku?

Dari cerita ceritanya soal si pacar, maka kemudian tersusun sebuah alur yang bikin hatiku mencelos. Pantas saja ia boros luar biasa. Jadi, bersusah susah begini kudapatkan uang untuk biaya sekolah anakku sendiri, ternyata (baru kuketahui) kutanggung juga hidup anak orang lain yang belum jadi anakku. 

Ia--anak lanangku itu--akan menelepon setiap hari Kamis untuk meminta uang. Jika aku bilang tidak ada ia akan marah besar, jika aku telat kirim ia memaki-maki. Dan jika Jumatnya kukirim uang, ia akan diam, diam sama sekali bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak. Lalu, ia akan menelepon lagi jika kiranya uang yang kukirim itu telah habis. Begitu seterusnya.
---


[Kakak]

Malam-malam sekali, ibuku telepon dengan suara parau dan kalimat yang terputus-putus. Pertanyaannya mengejutkanku. "Kartu ATM itu apa, Nak? Bagaimana cara pakainya" Maka kujelaskan benda asing yang mungkin baru diketahui fungsinya oleh ibuku malam itu. Orangtuaku memang punya rekening untuk mengirim uang bulanan kepadaku dulu dan adikku. Tapi, soal ATM tentulah itu sangat asing bagi mereka. 

Dari pertanyaan itu, kuketahui kemudian bahwa ibuku baru kena marah oleh adikku. Ia marah karena uang bulanannya terlambat datang. Jika kebiasaan setiap hari Jumat dikirim, maka jika terlambat maka hanya bisa dikirim Senin kemudian. Sabtu Minggu jelas kantor kantor libur. 

"Adikmu minta dikirim uang malam ini juga bagaimana pun caranya. Aku disuruh meminjam rekening orang dulu, kemudian ditransfer, dan diganti dengan uang cash. Aduh! Membayangkan saja aku bingung, Nak." Aku mencelos mendengar kalimat Ibu. 

Lagi-lagi soal uang. Adikku itu kapan sih berubahnya? 

Setiap kali menghubungiku, pasti ada hubungannya dengan uang. Dan karena uang pulalah hubungan kami jadi semakin jauh. Tiap bulan, ketika ia terdesak butuh uang (entah untuk apa), jika aku tidak memberinya bantuan maka lancarlah kosakata binatang meluncur dari mulutnya. Ia pikir, aku ini pejabat yang koruptor apa jadi bisa segampang itu keluarkan duit. 

Namun anehnya, setiap kali ia meminta, kemudian meludahiku dengan kata-kata kasar, besok bulannya ia seperti lupa begitu saja. Ia mengulang-ulang alur yang hampir serupa tiap bulan. Kasihan sebenarnya adikku, mengapa nasib begitu buruk menghampiri hidupnya yang selalu sial? Bayangkan saja bagaimana tidak bosan mendengarkan, jika setiap minggu selalu saja ada kabar buruk yang menimpanya; soal motor rusak, ditipu teman, kalah main poker, helm hilang, handphone jatuh, kecelakaan, dan masih banyak lagi yang terjadi. 

Dan, saking banyaknya kesialan yang dipikir-pikir tidak masuk akal, apalagi cerita-ceritanya yang tidak konsisten maka terbongkarlah peta kebohongan itu. Ia memang butuh uang, tapi bukan untuk dirinya sendiri. Sebagai lelaki yang payah, ia gampang sekali disetir perempuan cerdas.
---


[Adik]

Aku bercita-cita ingin menjadi guru agama dan bersekolah sangat tinggi di Kairo. Cerita tentang negara ini kudapat dari kakakku yang pertama. Maka selepas SD aku mulai tinggal di pesantren dan belajar sangat giat. Namun, ke luar negeri tentu saja butuh biaya yang sangat besar, bukan? Bapak Ibu semakin tua, dan uang mereka selalu habis dimintai Mamas tiap bulan. Apakah mereka masih akan punya uang buat aku, ya Allah? 

Kalau Mamas telepon ke rumah, diam-diam dulu aku suka menangis mendengar cerita Ibu. Ibu suka menangis karena banyak pikiran. Juga sering barantem sama Mamas. Ia sebenarnya, kakak yang baik kalau saja ia lebih menjaga sedikit saja ucapannya. 

Pernah ia bilang kalau Bapak Ibu itu tega karena telah terlambat mengirim uang. Ia juga bilang, Bapak Ibu sengaja membuatnya mati pelan-pelan karena kelaparan. Padahal, siang malam orangtuaku di rumah tidak pernah berhenti bekerja. Apa saja dikerjakan. Dan jadi berhenti bekerja kalau sedang bertengkar gara-gara uang, nah, siapa lagi yang bikin rumah selalu perang kalau bukan Mamas? Padahal, perang itu selalu membikin Ibu jadi jatuh sakit, apakah orang sakit bisa mencari uang? Dipikir-pikir bodoh juga ya Mamas. 
---


[Anak Lanang]

Aku tidak pernah bermaksud membuat siapapun terluka gara-gara sikapku. Tuhanlah yang telah menggarisi nasibku menjadi tokoh yang begini kejam. Aku tak punya perlawanan untuk semua tuduhan macam mana saja. Terserah. Karakterku bagaimana, itu bebas tafsir.


Catatan penulis. 
Maaf. Cerita Anak Lanang, kuselesaikan dengan sangat terburu-buru ketika mood menulis hilang sudah soal ide ini. Aku tidak punya ide yang lebih kreatif dari yang kamu baca barusan. Mula-mula, sebagian cerita kuposting di facebook. Sebagian saja memang, itu pun karena terburu-buru waktu. Aku hanya iseng. Namun, ternyata beberapa teman menagih kelanjutannya. Aku bingung. Maka, begini kulunasi janjiku. Meski sekadar begini, semoga ada manfaat dan tidak membuat semakin kecewa. ~Tabik

Tulisan Terkait

0 komentar

Komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus. Maaf ya....