Poligami di Ranjang Kami

by - March 25, 2017


Di atas ranjang kami sendiri, tiba-tiba ia bahas soal poligami. Ia—suamiku sendiri itu—sekali-kalinya aku diajaknya bicara justru perkara yang kerap jadi neraka. Perkara seserius ini, pertama-tama ia gelar di atas ranjang kami dengan keheranan yang berlebih-lebihan.

“Temanku itu, Sayang, heran aku pada ceritanya. Ia bilang padaku dengan bangga bahwa istrinya mengizinkan poligami. Pantaskah kebanggaannya itu? Bagaimana dengan istrinya?”

Belum sempat kutimpali, ia melanjutkan lagi, “Betul-betul sulit kupahami. Ia biarkan istrinya memelihara pikiran semacam itu. Dan ia sendiri justru bangga.”

Lantas aku bertanya-tanya tanpa suara: kan tak semua bisa kendalikan pikiran orang lain, sedang pikirannya sendiri kadang juga sulit dimengerti. Dan yang keluar dari mulutku adalah: memelihara pikiran semacam itu, apa maksudnya, Mas?

“Poligami, Sayang. Istrinya bersedia memberi izin poligami, memelihara pikiran semacam itu, seperti semua bukan suatu soal yang tidak bakal jadi masalah nantinya. Coba pikirkan, ber-po-li-ga-mi. Tidakkah ia pikirkan bagaimana nasib anak-anaknya? Harta, cinta, kasih sayang, dan segala-gala harus dibagi. Dan pasti, pembagian itu tidak mungkin bisa adil. ”

Tentu ada alasannya, Mas, jawabku. Seseorang mau dimadu, bisa saja karena tertekan, atau berada dalam situasi yang membuatnya harus memilih jalan semenyakitkan itu.

“Tidak, tidak, istrinya tidak tertekan. Juga tidak ada yang menekan,” jawab suamiku buru-buru. Tahu betul kiranya kau ini, Mas?

Lalu apa alasan si suami harus berpoligami?

“Tidak ada alasan. Maksudku, sejauh ini dia toh belum berpoligami. Entah apa alasannya. Aku juga tidak tahu pasti, apakah hanya wacana atau benar-benar sudah ada niatan.”

Barangkali rumah tangga mereka tidak bahagia?

“Bukan-bukan. Mereka kukira cukup bahagia. Mungkin ini hanya bentuk ketaatan seorang istri.”

(Ketaatan? Ya-ya, setiap lelaki tentu mengharap-harap istri yang taat sekalipun diberi kesengsaraan dan menjadi hina dina karena suaminya sendiri. Ketaatan begini macamkah yang mesti diterima perempuan? )

Sebenarnya, temanmu itu, Mas, siapa orangnya?

Ia tidak menjawab. Tidak juga menyebutkan satu nama pun. Tapi kemudian ia perbaiki percakapan ini dengan sekali lagi penekanan, “Mungkin ini cuma wacana.”

(Ya, bisa saja ini semua cuma wacana. Ini semua cuma wacana. Ini adalah wacana. Semua khayal dan opini-opini kita adalah wacana. Bukankah kau sendiri ingin tahu pendapatku tentang poligami, tanpa—tentu saja—berwacana, jika kelak ada dalam kepalamu istilah poligami itu. )

Jika kisah temanmu itu boleh kubikin cerita sendiri, Mas. Demikian;

Suaminya amat baik. Tak ada satu pun cela yang diperbuatnya. Laki-laki baik, yang kurang beruntung karena terlalu membosankan bagi perempuan. Hidupnya monoton. Membikin istrinya kurang bergairah.


Lelaki sebaik itu, kiranya alasan apa yang tepat untuk dapat ditinggalkan. Jika hanya perkara bosan, posisi perempuan di negeri ini, Mas, jika cela sedikit saja bakal sampai mati dipandang rendahan.

Untung saja perempuan itu bernasib baik. Tiba-tiba suaminya berwacana tentang poligami. Hanya wacana. Tapi ia tanggapi wacana itu dengan positif. Seakan-akan luas benar hatinya. Perempuan berpikiran terbuka, bijaksana, taat pada suami. Tanpa siapapun tahu, bahwa sebenarnya ia sendiri hanya tengah bersandiwara, mencari alasan untuk melimpahkan kutukan paling buruk sebagai pasangan yang tidak setia. Lelaki malang itu, karena kemalangannya, akan dikutuk dan dihujat lantaran memadu istrinya yang baik. Pasangan yang tidak setia, tentu saja boleh ditinggalkan untuk selama-lamanya.  Begitukah, Mas?

“Ngeri! Aduh! Ngeri betul isi kepalamu itu, Sayang. Aku tidak pernah membayangkannya. Ngeri! Ngeri!” Lalu ia pergi. Dan dalam hatiku berbisik, kan kau tak pernah tahu Mas, kenyataan bisa lebih mengerikan dari sekadar cerita-ceritaku yang sesederhana ini. Kenyataan yang bisa kubikin-bikin dari ceritaku sendiri.


*Iki fiksi loh, ojo serius-serius. 

Tulisan Terkait

6 komentar

  1. Jangan2 bojomu pengen poligami tapi mempersonifikasikan keinginannya dalam bentuk 'teman yg tak disebutkan namanya'. Kadang lelaki pake cara kek gitu buat nyari tau pendapat tanpa resiko bakal dicurigai. Iki ming jangan2 lho ya, aja dianggep serius

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iki mung cerita pendek, fiksi loh Mas hahaha. Amit-amit jabang mbayi. *Sambil ngulek sambel prak prak prak.

      Delete
  2. Duh ceritanya menarik banget hahahaha :-D Nulis terus, creativ banget tulisannya mbak... heheheh salam kenal, blogger tasik

    ReplyDelete
  3. Beberapa temanku, istrinya memang menyuruh mereka berpoligami. Salah satunya kepala seksiku sendiri. Mereka pasangan bahagia, beranak 4. Alasannya apa saya tak tahu. Juga saya pernah bertemu Gus Plered, istrinya tiga. Istri kedua dan ketiganya, yang mencarikan istri pertamanya. Keduanya anak yatim.

    Saya perhatikan karakter keduanya sama, sangat bertanggung jawab, sehinga sang istri ga ada kekhawatiran ditinggalkan, mereka meyakini suaminya sangat baik, dan ada baiknya kebagikan itu dibagikan ke orang lain. Cinta yang sungguh luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta luar biasa yang tak semua orang bisa memilikinya, Mas :)

      Delete
    2. mbak, boleh minta tolong diedit komenku (matikan linknya), atau dihapus saja. Lagi bersihin spamscore nih.

      Delete

Komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus. Maaf ya....