Skip to main content

3 Designer Yogyakarta Tuangkan Keindahan Langit Senja dalam Karya


The Enlightement Fashion Diary kembali dihelat Ibis Styles Yogyakarta dengan mengusung tema "Gurat Senja". Tema tersebut dipilih lantaran bertepatan dengan peluncuran promo terbaru mereka Sunset Hour. Menurut Diah Widyaningsih, Executive Secretary & PR Ibis Style, dalam setahun series fashion show yang telah dirintis sejak 2014 ini digelar sebanyak dua kali dengan tema yang berbeda-beda. 

Gurat Senja sendiri terselenggara pada Kamis 24 November 2016, di D'Skybar lantai 7 Ibis Styles Yogyakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Dalam fashion show ini, ada tiga designer kenamaan Yogyakarta yang digandeng untuk memamerkan karyanya, yaitu Endarwati, Theo Ridski, dan Djoko Margono. Ketiganya mengangkat keindahan langit senja yang memancarkan warna warni jingga ceria yang dituangkan dalam karya. Maka jadilah busana casual ready to wear dengan permainan warna yang ceria, elegan, dan modern diperuntukan bagi semua kalangan yang berjiwa muda, matang, dan dinamis. 

Adapun model yang memperagakan karya 3 desaigner tersebut diambil dari Paguyuban Dimas Diajeng Sleman serta Lima LutfiMajid sebagai koreografernya. Harapannya, apa yang ditampilkan di acara Gurat Senja dapat menjadi acuan gaya busana masa kini dan modern. 


Endarwati bersama peraga yang memamerkan karyanya

Theo Ridski dengan dua peraga busananya

Djoko Margono bersama peraga busananya

Sebenarnya ada yang menarik, dan berbeda dari acara ini. Jika biasanya kita menyaksikan fashion show dalam ruangan, Gurat Senja justru berusaha keluar dari konsep tersebut. Tujuannya adalah mengajak tamu-tamu yang hadir untuk menikmati keindahan karya anak bangsa, sekaligus indahnya matahari terbenam di tengah hiruk pikuknya Kota Yogyakarta. Tak heran jika The Enlightement Fashion Diary telah dua kali diselenggarakan di D'Skybar lantai teratas Ibis Styles Yogyakarta. 

Suasana Gurat Senja

Sebagai perempuan yang tentunya ingin tampil menarik, beruntung sekali, saya dengan lima teman blogger lainnya dapat menyaksikan langsung fashion show ini. Bagaimana tidak beruntung? Selain lokasinya yang indah, kami juga mendapat referensi baru tentang fashion yang dapat dikenakan dalam berbagai acara. 

Kami: blogger Jogja
Foto milik Primastuti Satrianto/ceritamanda.com

Selain itu, pihak Ibis Styles Yogyakarta yang notabene penyelenggara sekaligus hotel dengan brand yang unik, dinamis, dan nyaman, mengaku sangat berharap dapat selalu menjadi bagian dari perkembangan dunia fashion khususnya di Yogyakarta. Maka acara The Enlightement Fashion Diary pun akan terus diselenggarakan dengan tema yang bervariatif dan menggandeng designer-designer pilihan. Semoga, fashion show selanjutnya akan lebih menginspirasi dan membawa udara segara bagi kemajuan fashion Indonesia. 


****
Alamat Ibis Styles Yogyakarta:
Jl. Dagen No. 109, Malioboro, Yogyakarta. 
Untuk informasi dan reservasi dapat menghubungi 0274-588889 atau ibisstyles.com. 


Comments

  1. Wiiihhh...peragaannya kece, tempatnya juga kece yaaa mak :) kalau ada fashion show lagi di Ibis kita ngumpul yuuuk :)

    ReplyDelete
  2. kece yaaaaaa, tulisannya asik dibaca dan fotonya kece, kapan ya nongki di skybar lagi *aw aw aw *kode

    ReplyDelete
  3. Asyikkkk, besok kesana lagi Sunset Hour...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuppi. Ditunggu poto poto terbaru menikmati Sunset Hour yes, Vi.

      Delete
  4. Waah yang ini juga enak banget dibacanya, komplit.. jadi pingin ngumpul syantik lagi yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tetep tulisanmu yang jempolan, Mak. Tak kusangka hehehe

      Delete
  5. Asik ya suasananya,peragaan busana outdoor
    Salam kenal mbak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya asyiiik banget. Salam kenal balik Kakak.

      Delete
  6. Suka yg pink atas itu. Dikasih deker & legging, trus kets. enak buat piknik cantik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak, kemarin lupa ndak pegang bahannya gimana. Tapi kayaknya sih adem. Jadi asyik buat piknik.

      Delete
  7. Suka baju yang dipake endarwati ehehehee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yah. Tinggal pakaiin leging sudah bisa dipakai halan halan.

      Delete

Post a Comment

Komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus. Maaf ya....

Popular posts from this blog

Jangan Berharap Lebih di Malam Kami Makan

Makan malam berdua terasa seperti istilah asing; yang butuh dipahami, meski berat dijalani.  Tapi, akhirnya kesempatan itu datang juga.  Malam ini suami pulang lebih awal. Aku pikir, m akan malam berdua di saat anak tidur, mungkin bisa kayak pacaran lagi? Ciyeee ciyee.  Tapi tunggu dulu! Aku buru-buru membuka kulkas. "Lah kok cuma ada telur dan tempe?" keluhku yang bagai perempuan tak tahu bersyukur.  Hufttt. Mau bagaimana lagi? Pupuslah harapan untuk bisa menyuguhkan masakan yang aneh-aneh tapi instagramable. Aku kan anaknya suka pameran. Maka, demi menolong egoku yang kadung menanjak, kupinjam semangat menu gizi seimbang, di mana tempe goreng jadi protein nabati, telur dadar sebagai protein hewani, kremesan, sambel terasi, lalapan timun dianggap sayur mayur yang hijau royo-royo, dan tentu saja, karbohidratnya tetep nasi. Nggak cucok kalau diganti roti, apalagi ubi ungu. Meski keduanya termasuk karbohidrat.  Sebelum mulai dinner berdua (ceileh bahasanya

Garis Dua di Bulan April 2017

Empat tahun setengah, bukanlah waktu yang sebentar bagi kami yang kurang tabah ini menghadapi serangkaian pertanyaan tentang anak--mulai dari pertanyaan basa-basi, hingga sejumlah tuduhan menyakitkan yang kerap mampir membikin air mata tak tahan berderai-derai jatuh di sajadah.  Beruntungnya, suamiku tetap menggenggam tanganku erat, menguatkan di depan, meski aku tak tahu betul jika barangkali ia pun diam-diam memunggungiku untuk menahan tangis sendirian.  "Kita sudah berusaha, Dik, dengan sebaik-baiknya ..." bisiknya pelan, tiap kali aku mengadu.  Namun, saat hati terasa amat sakit mengingat tuduhan buruk yang bukan jadi kuasa kami, usai salat aku justru tak bisa berdoa. Aku menatap ke atas, diam, menangis pun tak sanggup. Lalu dengan pasrah, aku yang lemah hingga tak kuasa membungkam suara hati yang lepas begitu saja,  "Tuhan, tidakkah Kau melihat ini semua dari sana? Aku harus bagaimana?" Kan, yang tahu apa usaha kami hanya kami sendiri dan Tuhan

Harus Ya, Dok, Njelasinnya Serem Gitu?

Awal bulan April 2015, saya dan suami melangkah penuh harap menuju gedung RS pusat Jogja.  Dalam tas sudah saya siapkan biskuit dan air putih untuk cadangan kalau benar antrenya bakal panjang. Sebenarnya, ide berbekal ini adalah saran dokter DP dari RS awal biar kami tetep konsentrasi. Waktu itu, setelah urusan isi mengisi formulir di bagian pendaftaran selesai, sampailah kami di lokasi tujuan : Poli THT.  Saya menyuruh suami duduk di kursi tunggu pasien dan meminta dia mendengarkan kalau-kalau namanya dipanggil. "Ade mau ke toilet dulu." Kata saya.  Ya, ampun. Padahal gedungnya bagus, tapi toiletnya (bagi saya) bener-bener nggak layak jadi cermin RS pusat. Udah lantainya kotor, tisu habis, dan kloset duduknya juga licin kayak nggak pernah dibersihkan. Bayangin coba, di rumah sakit kan tempatnya orang sakit. Gimana ya kalau toilet macam itu malah jadi media penularan penyakit dari pantat satu ke pantat lainnya. Hih, kalau nggak kepaksa banget pasti saya ogah pakai toil