Kematian yang Begitu Dekat

by - October 10, 2012

Bagiku, sarapan sebelum berangkat kerja itu menyenangkan. Seperti pagi tadi, menu sarapan kami adalah rempelo ati, tempe dan bergedel kentang. 



"Hati itu sumbernya racun kan Mbak, penyaring racun. Kalau nggak karena darah rendah, aku ogah makan rempelo ati" Itu kata temenku. Aku geli mendengarnya.

"Ow, jadi, mereka ndak perlu dong yah mengambil hatimu buat jadi pacar. Hatimu kan beracun, kenapa nggak ambil aja jantungmu, bisa mati dong yah" Glek. Sungguh. Ini kalimat bercanda yang ngeri bagiku, sebelum akhirnya aku menyesal sampai hati. Sepagi ini membicarakan kematian di meja makan itu seperti menyusun penyesalan dan rasa cemas. 

Setelah selesai makan. Kami berpisah di depan warung. Menaiki motor masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Aku merasa perjalananku menuju kantor jadi sangat aneh. Mungkin cuma perasaanku saja. Tapi, sampai di lampu merah simpang empat Condong Catur, pikiran buruk itu menjelma derit rem, klakson yang menghentak-hentak di belakangku. Di sampingku Trans Jogja berebut jalan. Aku masih sempat melihat spion sambil menancap gas lebih kencang. Ah, aku selamat. Meski aku melihat tak seorangpun secemas aku. 

Lalu, aku melanjutkan perjalanan dengan hati gamang. Melewati JIH. Melewati ring road depan UPN. Aku melihat orang-orang berkerumun dengan perasaan yang mungkin sama. Takut, cemas dan penasaran. Aku melihat sekilas ke arah mereka sebelum tukang parkir itu menyuruhku lekas maju supaya lalu lintas kembali normal. Sebuah mobil yang remuk menabrak pembatas jalan. Serpihan kaca, helm dan puing-puing lainnya masih berserakan di sepanjang jalan itu. 

Di simpang empat berikutnya aku kembali bertemu dengan temanku.
"Lemes lihat kecelakaan tadi, Mbak" katanya. 
"Emang gimana sih ceritanya?" Aku melihat lampu apil masih merah.
"Kayaknya sih, tabrakan. Dua mobil dan motor juga" jelasnya. Ah masa iya? Jalanan untuk motor dan mobil kan dipisah? Ah, tapi ndak ada yang mustahil, kan? Ketidaktertiban kadang emang bikin musibah. Ada yang tau cerita lengkapnya?

Tulisan Terkait

0 komentar

Komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus. Maaf ya....