Hutan Persembunyian Kami

by - January 28, 2015

Hutan bagiku adalah kenangan masa kecil yang rasanya pedas, asam, sekaligus manis. 


Di masa-masa sulit dulu, kami harus menempuh hutan berbukit demi sampai ke rumah Nenek. Dalam ingatanku, hutan adalah rumah kalajengking, ular berbisa, ayam alas, dan hantu jelmaan siluman. Lebih dari itu, aku pernah melihat Mama pingsan di jalan setapak menuju lereng bukit. (Mama memang sering sekali pingsan ketika menghadapi masalah berat. Mungkinkah, waktu itu Mama hendak mengadu ke orangtuanya? AH. Aku tidak pernah tahu, tidak, sampai kutemukan ilmu kira-kira ini.)

Kalau tidak melewati hutan, barangkali aku pun tak punya kenangan indah tentang nyanyian semilir angin. Aku naik ke ranting pohon karet yang tiga kali lipat tinggi badanku. Semut-semut menggigit. Dan, aku tak peduli. Sebab tahu di atas sana, angin akan mengayun-ayun, membawaku jauh ke lamunan masa depan indah. 

Kau pernah melihat kereta sandal jepit?
Tidak? Ah, ya. Jelas saja kau tidak tahu. 
Tentang kereta sandal jepit itu. Dulu, kami sering membuatnya untuk Adik supaya dia berhenti merengek minta gendong. (Sebenarnya ini hanya akal-akalan Bapak.) Jadi, semua sandal kami disatukan, diikat dengan tanaman rambat, lalu ditarik oleh Adik sepanjang jalan setapak menuju rumah Nenek. 

Ini jelas sangat melegakan. 

Sebenarnya, karena jalanan licin, kami harus melepas sandal dan menentengnya sampai sungai kecil dekat desa. Kalau tidak ada akal-akalan kereta sandal, maka menenteng sandal sambil berlari dari satu pohon ke pohon lainnya demi membuat bola karet itu sangat merepotkan. Hemmm ... tiba-tiba aku kangen melewati hutan itu lagi. Hutan yang jalan setapaknya kini telah hilang karena pipi bukitnya longsor besar di tahun silam. 

Apa Mas pernah memiliki kenangan tentang hutan? Tanyaku kepada suami. Dia menggeleng. Anak pantai yang telah dua tahun seatap denganku ini jelas hanya memiliki masa kecil tentang tambak ikan, air asin, dan garam yang melimpah di sekitar rumahnya. Aku hanya mengira-ngira, barangkali ia pun pernah memiliki imajinasi sendiri tentang hutan. Pernahkah ia berkhayal tengah menjelajahi hutan lalu tersesat? Atau, pernahkah ia ingin berlari ke hutan dan bersembunyi dari musuh? Kami tidak pernah berbincang tentang itu. Tapi, ketika tanaman markisa peliharaannya memenuhi halaman rumah kami, aku tahu bahwa ada hutan yang sedang dibangunnya. 

Tanaman markisa itu, benar-benar menutupi wajah rumah kami. Begitu rimbun, hingga matahari hanya mengintip dari sela-selanya. Kadang, aku takut akan ada ular merambat lalu turun ke kamar kami. Bukankah semua bisa saja terjadi? Tapi, suami selalu menenangkan. Tidak ada ular, Dik, tidak ada. Katanya. (Sampai saat ini, aku terpaksa percaya kepada lelaki yang bahkan tidak memiliki pengalaman melewati hutan. Di mana hutan biasanya menyimpan ratusan bahkan ribuan ular dengan berbagai jenisnya). 

Kini. Halaman rumah kami menjelma hutan imajinasi. Ketika kami duduk di muka pintu depan, matahari tidak bisa mengganggu. Bahkan, kami seperti sedang bersembunyi dan mengintip orang di luar pagar berjalan tanpa melihat kami. 

Ya, hutan kami. Hutan yang tumbuh di perumahan padat penduduk. 

Suatu senja saat aku duduk sendiri, aku tidak merasa sepi sebab kenangan masa kecil berlarian di halaman rumah kami. Mungkinkah suamiku menumbuhkan hutan untuk ini semua? Atau, ia sebenarnya rindu memliki hutan untuk bersembunyi dari segala kepenatan. 

"Duh Dik, rasanya Mas pengin menyirami bunga-bunga terus. Seger. Bikin kepala juga seger" Teriaknya. Padahal hujan hampir datang. Dan aku menulisnya ketika gerimis telah bernyanyi di atap rumah kami. 

Tulisan Terkait

0 komentar

Komentar dengan menyertakan link hidup akan saya hapus. Maaf ya....