Skip to main content

Tiga Nama Palupi yang Kece Badai dalam Hidupku

Swastika Palupi
Temenan sama ni bocah udah ada 8 tahunan. Sejak dia menempati kamar samping kos saya di tahun 2007, kami resmi berkenalan. Waktu itu dia mahasiswi baru. Penampilannya aja masih dekil, item, bahkan nggak suka dandan. 

Penampilan di awal kuliahnya memang kurang kece, tapi soal kebersihan, beuuuh, kamarnya itu langsung menempati posisi pertama di komplek kosan pada zaman kami. Kenapa? Soalnya kamarnya tuh paling lengkap, rapi dan bersih. Tapi, tetep aja ada dong ada minusnya. Kalau nggak sering pinjem baju, mungkin saya juga nggak pernah tahu kalau lemarinya itu huwaaaa super duper berantakan. Tikus aja betah di sana hahaha.

Soal usia, kami terpaut dua tahun. Jelas dong dia lebih muda. Saya aja manggil dia 'harus' pakai embel-embel 'Dik'. Namun, meski begitu, saya nggak pernah meremehkan dia dari melihat usianya yang muda. Sebab, terkadang, dia justru jauh lebih dewasa dalam menghadapi hidup.

Dia suka main teater waktu SMA, pernah nulis buat majalah, tapi kemudian selera bacanya berubah ke buku buku motivasi. Positif banget deh pikirannya. 

Sebagai temen, dia tu tetep aja suka nyebelin. Manusiawi banget. Makanya saya kadang suka marah, ngambek atau jengkel. Tapi, syukurlah, itu tidak mengubah persahabatan kami. Udah kayak keluarga yang berantem, tapi nggak pernah dimasukin hati. 

Lama mengenal dia, saya yakin kalau dia tipe temen yang setia. Hatinya rapuh, tiap liat temen menderita. Super baik, dan kalau bohong sama saya, pasti ketahuan. (Ups, tapi saya suka pura-pura nggak tahu)

Pokoknya, bersyukur banget punya sahabat kayak dia: Swastika Palupi Anggoro.  Dia juga sedang merintis usaha sepatu kulitnya di boots www.palupi.id

dr. Arsi Palupi
Akhirnya nemuin dokter yang kece badai. Beliau dokter SPOG, yang menemani saya buat program hamil. Orangnya cantik, masih muda, dan baik. Dari cara menangani pasien, saya suka banget kerna ramah, sabar, dan komunikatif. 

Sebagai dokter lulusan UGM yang konon juga akademisi, saya yakin ilmunya selalu updet. Pokoknya bersyukur banget ketemu dokter ini di saat saya tengah putus asa dan butuh motivasi. 

dr. Niken Palupi
Secara tidak sengaja, nama dokter keluarga yang saya pilih untuk faskes pertama BPJS, ternyata namanya juga mengandung kata Palupi. Kebetulan juga, beliau nggak kalah baik dari dua palupi di atas, orangnya ramai, keibuan, ramah, dan pengertian. Saya bersyukur sekali pokoknya. 


Dari ketiga Palupi di atas semoga akan menjadi teman yang baik dalam hidup saya. Thanks Tuhan.


Comments

Popular posts from this blog

Jangan Berharap Lebih di Malam Kami Makan

Makan malam berdua terasa seperti istilah asing; yang butuh dipahami, meski berat dijalani.  Tapi, akhirnya kesempatan itu datang juga.  Malam ini suami pulang lebih awal. Aku pikir, m akan malam berdua di saat anak tidur, mungkin bisa kayak pacaran lagi? Ciyeee ciyee.  Tapi tunggu dulu! Aku buru-buru membuka kulkas. "Lah kok cuma ada telur dan tempe?" keluhku yang bagai perempuan tak tahu bersyukur.  Hufttt. Mau bagaimana lagi? Pupuslah harapan untuk bisa menyuguhkan masakan yang aneh-aneh tapi instagramable. Aku kan anaknya suka pameran. Maka, demi menolong egoku yang kadung menanjak, kupinjam semangat menu gizi seimbang, di mana tempe goreng jadi protein nabati, telur dadar sebagai protein hewani, kremesan, sambel terasi, lalapan timun dianggap sayur mayur yang hijau royo-royo, dan tentu saja, karbohidratnya tetep nasi. Nggak cucok kalau diganti roti, apalagi ubi ungu. Meski keduanya termasuk karbohidrat.  Sebelum mulai dinner berdua (ceileh bahasanya

Harus Ya, Dok, Njelasinnya Serem Gitu?

Awal bulan April 2015, saya dan suami melangkah penuh harap menuju gedung RS pusat Jogja.  Dalam tas sudah saya siapkan biskuit dan air putih untuk cadangan kalau benar antrenya bakal panjang. Sebenarnya, ide berbekal ini adalah saran dokter DP dari RS awal biar kami tetep konsentrasi. Waktu itu, setelah urusan isi mengisi formulir di bagian pendaftaran selesai, sampailah kami di lokasi tujuan : Poli THT.  Saya menyuruh suami duduk di kursi tunggu pasien dan meminta dia mendengarkan kalau-kalau namanya dipanggil. "Ade mau ke toilet dulu." Kata saya.  Ya, ampun. Padahal gedungnya bagus, tapi toiletnya (bagi saya) bener-bener nggak layak jadi cermin RS pusat. Udah lantainya kotor, tisu habis, dan kloset duduknya juga licin kayak nggak pernah dibersihkan. Bayangin coba, di rumah sakit kan tempatnya orang sakit. Gimana ya kalau toilet macam itu malah jadi media penularan penyakit dari pantat satu ke pantat lainnya. Hih, kalau nggak kepaksa banget pasti saya ogah pakai toil

Duh, Gendang Telinga Saya Pecah ...

Seminggu yang lalu, telinga kiri saya terbentur keras sekali. Rasanya memang tidak terlalu sakit, tapi sekian detik dari kejadian itu, dunia berubah jadi sunyi. Begitu aneh. Sebab rasanya seperti sedang berada di kampung sepi pada dini hari. Tanpa ada suara, hingga dengungan telinga jadi terdengar amat jelas. (Saya lantas ingat, kok pendengaran ini persis seperti adegan tuli sesaat di film 5CM ketika Pevita Pearce terjatuh-berguling dari lereng Mahameru. Ah, ada ada saja.) Kalau Pevita Pearce bisa seketika mendengar lagi, berbeda dengan saya. Di hari pertama kejadian, saya merasa sangat terganggu dengan kondisi pendengaran yang timpang begini. Membedakan suara mesin mobil dan motor saja tidak bisa. Itulah kenapa rasanya saya pengin sekali marah kalau ada bunyi-bunyian mesin. Saya frustasi. Telinga saya terasa penuh, dan membuat  suara apapun sulit dianalisis.  Lalu saya jadi ingat perkataan seorang teman yang bisa dikatakan sebagai aktivis pembela difabel, dia bilang "Terk